Senin, 12 Oktober 2015

Filled Under:

PUNCAK B29


PUNCAK B29
            Berawal dari sebuah agenda yang telah direncanakan dalam rangka untuk merayakan anniversary 1 tahun sebuah komunitas yang dibentuk oleh alumni tempat saya dulu sekolah. Dalam jadwal tertulis banyak agenda di bulan Agustus-September, dan di tanggal 12 September 2015 go to B29 Argosari Lumajang.
            B29 ? tempat apa itu ? dimana lokasinya ?  pertanyaan itu yang mondar-mandir di pikiran saya. Saya juga banyak bertanya pada sahabat saya, Angga. Dan yang bikin meringis dengan jawaban dia “Belum ada yang pernah ke sana”.
            Terkumpulah 15 orang pada hari sabtu sore, 12 September 2015 dengan langit yang cerah dan matahari yang sangat bersahabat kami berkumpul di Ngoro Industri Park – Mojokerto. Kami memilih berangkat sore karena beberapa diantara kami masih ada yang bekerja pagi harinya, begitu juga dengan saya dan dua orang teman saya yang berangkat dari Tuban yang membutuhkan sekitar 3 jam perjalanan untuk ke Mojokerto. Sebelum berangkat, terlebih dahulu kami berdo’a, dan dengan mengendarai 7 sepeda motor kami keluar dari Mojokerto melewati jalur Pasuruan menuju Lumajang. Beberapa kali kami berhenti untuk sholat atau beristirahat sejenak di SPBU untuk sekedar makan minum atau mengisi BBM untuk sepeda motor yang kami kendarai.
Istirahat dirasa cukup, perjalanan kami lanjutkan menuju Desa Argosari. Beberapa kali kami berhenti dan bertanya kepada orang, maklum diantara kami belum ada yang pernah mengunjungi B29. Hanya bermodal GPS dan nekat saja. Kami pun sempat sedikit nyasar.
            Saat memasuki Desa Argosari yang berada di Kecamatan Senduro sudah larut malam sekitar pukul 21.45 WIB. Lalu dimana puncak B29 ? Masih belum sampai juga. Jalanan semakin menanjak, beberapa dari kami harus turun dari motor dan sesekali yang dibonceng mendorongnya. Meski jalanan cukup bagus untuk daerah terpencil ini namun semakin ke atas tanjakannya semakin tidak bersahabat, licin dan menikung tajam , terdapat jalan berlubang di beberapa tempat, bahkan sepeda motor yang saya dan Huda (teman saya) naiki hampir terjatuh.
            Semakin malam kabut semakin tebal dan udara juga semakin dingin, saat memasuki dusun yang berjarak sekitar 9KM dari puncak B29, ada beberapa bapak-bapak ojek gunung yang menawarkan jasa dan menceritakan mengenai jalur yang kan dilewati di atas sana. Awalnya kami ingin berjalan sampai ke puncak, namun setelah banyak pertimbangan, terlebih sebelumnya juga beberapa diantara kami ada yang hampir tejatuh, ada yang sudah kelelahan, akhirnya kami memutuskan untuk menitipkan sepeda motor di rumah penduduk dan melanjutkan perjalanan menaiki ojek gunung dengan tarif Rp.50.000. mungkin untuk biasa dengan tarif sebesar itu mahal, tetapi tarif itu sebanding dengan track yang dilalui. Jalanan tanah sempit yang ditutupi dengan debu yang sangat tebal, berbatu, melewati tanjakan terjal dan tikungan tajam, di kanan kiri terdapat jurang ditambah kondisi gelap karena sudah larut malam menjadikan perjalanan ini semakin menegangkan. Jujur saya sendiri sewaktu dibonceng bapak ojek gunung antara ingin tertawa karena saya bergeser ke sana sini dari jok sepeda motor dan kaos bapak ojek saya tarik-tarik, tetapi juga takut jatuh apalagi disebelah jalan terdapat jurang.
Setelah sampai tempat yang dituju, saya sedikit bertanya kepada bapak ojek yang sangat sabar dan ramah itu tentang sepeda motornya, ternyata sepeda motor yang digunakan bapak ojek gunung adalah sepeda motor standart yang dibeberapa bagian suda dimodifikasi dan diset sedemikian rupa sehingga bisa melewati track yang cukup membuat jantung dag dig dug.
            Dari tempat kami turun dari ojek, kami masih harus berjalan sedikit untuk sampai puncak B29. Dan tak lama kemudian kami sampai di puncak B29 sekitar pukul 23.00 WIB dan banyak orang-orang di sana yang sudah mendirikan  tenda. Setelah tenda kami berdiri, kami duduk dan ngobrol-ngobrol sambil menunggu matahari terbit, ada juga yang masuk tenda untuk sedikit menghindar dari dinginnya puncak B29. Rasa capek, takut, deg-degaan dan lainnya terbayar dengan melihat matahari terbit bersama sahabat dan teman-teman.
            Sekitar pukul 06.30 WIB setelah dirasa cukup puas sudah menimkati pemandangan, dan selfie sampai membuat memori hp penuh, kami pun berjalan menuruni puncak B29. Kali ini kami tidak menggunakan ojek lagi, melainkan memilih untuk berjalan kaki sejauh 9 KM untuk kembali ke tempat kami menitipkan sepeda motor, sambil melihat indahnya hamparan kebun sayur milik warga Desa Argosari.

Informasi sedikit mengenai puncak B29. Puncak B29 adalah sebuah bukit dengan ketinggian 2900 Mdpl, yang masih bagian dari Taman Nasional Bromo tengger Semeru. Terletak di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Puncak B29 juga memiliki nama lain sebagai Negeri Di Atas Awan, karena saat sudah berada berada di puncak akan terlihat pemandangan indah seperti di atas awan, terlihat juga gunung Bromo dan Gunung Batok, juga hamparan kebun sayur yang luas.
Mungkin dari cerita yang sudah saya tulis, anda memiliki sedikit gambaran tentang Puncak B29. Dari kecamatan Lumajang tidak ada kendaraan umum untuk menuju ke Desa Argosari. Tidak ada mobil jeep yang bisa melewati juga karena jalan yang sempit. Lebih baik mengendarai  sepeda motor, dan pastikan sepeda motor yang digunakan dalam kondisi prima. Sangat tidak disarankan membawa motor automatic, karena track yang cukup terjal.

   


Opini wisatawan tentang Puncak B29 : 
 

Puncak B29 sangat menakjubkan, pemandangan yang disuguhkan juga indah, namun ada hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya sampah yang masih banyak berserakan, padahal tempat wisatanya cukup bagus dan tidak kalah dengan tempat wisata lainnya yang ada di Kabupaten Lumajang. Sudah seharusnya wisatawan yang berkunjung sadar akan kebersihan, terutama yang setelah ber-selfie ria dengan tulisan-tulisan lalu membuang kertasnya sembarangan. (Angga N.F)
 




0 komentar:

Posting Komentar