PUNCAK B29
Berawal
dari sebuah agenda yang telah direncanakan dalam rangka untuk merayakan
anniversary 1 tahun sebuah komunitas yang dibentuk oleh alumni tempat saya dulu
sekolah. Dalam jadwal tertulis banyak agenda di bulan Agustus-September, dan di
tanggal 12 September 2015 go to B29 Argosari Lumajang.
B29
? tempat apa itu ? dimana lokasinya ? pertanyaan
itu yang mondar-mandir di pikiran saya. Saya juga banyak bertanya pada sahabat
saya, Angga. Dan yang bikin meringis dengan jawaban dia “Belum ada yang pernah
ke sana”.
Terkumpulah
15 orang pada hari sabtu sore, 12 September 2015 dengan langit yang cerah dan matahari
yang sangat bersahabat kami berkumpul di Ngoro Industri Park – Mojokerto. Kami
memilih berangkat sore karena beberapa diantara kami masih ada yang bekerja
pagi harinya, begitu juga dengan saya dan dua orang teman saya yang berangkat dari
Tuban yang membutuhkan sekitar 3 jam perjalanan untuk ke Mojokerto. Sebelum
berangkat, terlebih dahulu kami berdo’a, dan dengan mengendarai 7 sepeda motor
kami keluar dari Mojokerto melewati jalur Pasuruan menuju Lumajang. Beberapa
kali kami berhenti untuk sholat atau beristirahat sejenak di SPBU untuk sekedar
makan minum atau mengisi BBM untuk sepeda motor yang kami kendarai.
Istirahat dirasa cukup,
perjalanan kami lanjutkan menuju Desa Argosari. Beberapa kali kami berhenti dan
bertanya kepada orang, maklum diantara kami belum ada yang pernah mengunjungi
B29. Hanya bermodal GPS dan nekat saja. Kami pun sempat sedikit nyasar.
Saat
memasuki Desa Argosari yang berada di Kecamatan Senduro sudah larut malam
sekitar pukul 21.45 WIB. Lalu dimana puncak B29 ? Masih belum sampai juga.
Jalanan semakin menanjak, beberapa dari kami harus turun dari motor dan sesekali
yang dibonceng mendorongnya. Meski jalanan cukup bagus untuk daerah terpencil
ini namun semakin ke atas tanjakannya semakin tidak bersahabat, licin dan
menikung tajam , terdapat jalan berlubang di beberapa tempat, bahkan sepeda
motor yang saya dan Huda (teman saya) naiki hampir terjatuh.
Semakin
malam kabut semakin tebal dan udara juga semakin dingin, saat memasuki dusun
yang berjarak sekitar 9KM dari puncak B29, ada beberapa bapak-bapak ojek gunung
yang menawarkan jasa dan menceritakan mengenai jalur yang kan dilewati di atas
sana. Awalnya kami ingin berjalan sampai ke puncak, namun setelah banyak
pertimbangan, terlebih sebelumnya juga beberapa diantara kami ada yang hampir
tejatuh, ada yang sudah kelelahan, akhirnya kami memutuskan untuk menitipkan
sepeda motor di rumah penduduk dan melanjutkan perjalanan menaiki ojek gunung
dengan tarif Rp.50.000. mungkin untuk biasa dengan tarif sebesar itu mahal,
tetapi tarif itu sebanding dengan track yang dilalui. Jalanan tanah sempit yang
ditutupi dengan debu yang sangat tebal, berbatu, melewati tanjakan terjal dan
tikungan tajam, di kanan kiri terdapat jurang ditambah kondisi gelap karena
sudah larut malam menjadikan perjalanan ini semakin menegangkan. Jujur saya
sendiri sewaktu dibonceng bapak ojek gunung antara ingin tertawa karena saya
bergeser ke sana sini dari jok sepeda motor dan kaos bapak ojek saya tarik-tarik,
tetapi juga takut jatuh apalagi disebelah jalan terdapat jurang.
Setelah sampai tempat yang
dituju, saya sedikit bertanya kepada bapak ojek yang sangat sabar dan ramah itu
tentang sepeda motornya, ternyata sepeda motor yang digunakan bapak ojek gunung
adalah sepeda motor standart yang dibeberapa bagian suda dimodifikasi dan diset sedemikian rupa sehingga bisa
melewati track yang cukup membuat jantung dag dig dug.
Dari
tempat kami turun dari ojek, kami masih harus berjalan sedikit untuk sampai
puncak B29. Dan tak lama kemudian kami sampai di puncak B29 sekitar pukul 23.00
WIB dan banyak orang-orang di sana yang sudah mendirikan tenda. Setelah tenda kami berdiri, kami duduk
dan ngobrol-ngobrol sambil menunggu matahari terbit, ada juga yang masuk tenda
untuk sedikit menghindar dari dinginnya puncak B29. Rasa capek, takut,
deg-degaan dan lainnya terbayar dengan melihat matahari terbit bersama sahabat
dan teman-teman.
Sekitar
pukul 06.30 WIB setelah dirasa cukup puas sudah menimkati pemandangan, dan
selfie sampai membuat memori hp penuh, kami pun berjalan menuruni puncak B29.
Kali ini kami tidak menggunakan ojek lagi, melainkan memilih untuk berjalan
kaki sejauh 9 KM untuk kembali ke tempat kami menitipkan sepeda motor, sambil
melihat indahnya hamparan kebun sayur milik warga Desa Argosari.
Informasi
sedikit mengenai puncak B29. Puncak B29 adalah sebuah bukit dengan ketinggian
2900 Mdpl, yang masih bagian dari Taman Nasional Bromo tengger Semeru. Terletak
di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Puncak B29 juga
memiliki nama lain sebagai Negeri Di Atas Awan, karena saat sudah berada berada
di puncak akan terlihat pemandangan indah seperti di atas awan, terlihat juga
gunung Bromo dan Gunung Batok, juga hamparan kebun sayur yang luas.
Opini wisatawan tentang Puncak B29 :
Puncak B29 sangat menakjubkan,
pemandangan yang disuguhkan juga indah, namun ada hal yang perlu diperhatikan.
Salah satunya sampah yang masih banyak berserakan, padahal tempat wisatanya
cukup bagus dan tidak kalah dengan tempat wisata lainnya yang ada di Kabupaten
Lumajang. Sudah seharusnya wisatawan yang berkunjung sadar akan kebersihan,
terutama yang setelah ber-selfie ria dengan tulisan-tulisan lalu membuang
kertasnya sembarangan. (Angga N.F)

0 komentar:
Posting Komentar